Kemnaker Targetkan 70 Persen Lulusan Vokasi Bekerja
POSKOTAKALTIMNEWS, BANDUNG: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong transformasi Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) agar pelatihan semakin sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan peluang lulusan memasuki dunia kerja, dengan target tingkat kebekerjaan lulusan pelatihan vokasi nasional mencapai 70 persen.
Menteri
Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, BPVP perlu dikelola sebagai pusat
pelatihan berstandar tinggi yang memiliki budaya belajar kuat dan jaringan
alumni terintegrasi. Dengan demikian, pelatihan vokasi diharapkan memberikan
manfaat nyata bagi masyarakat dan lebih responsif terhadap kebutuhan pasar
kerja.
“Kita
harus mengejar bagaimana balai-balai pelatihan ini bisa memberikan kemanfaatan
yang seluas-luasnya bagi masyarakat. Melalui transformasi pelatihan vokasi
nasional, kita memperluas akses dan meningkatkan kualitas agar mampu menjawab
tantangan ketenagakerjaan saat ini,” ujar Yassierli saat memberikan arahan
dalam kunjungan kerja di BPVP Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (9/10/2026).
Untuk
memantau hasil pelatihan, Kemnaker akan menerapkan tracer study paling lambat
dua bulan setelah pelatihan selesai. Mekanisme ini digunakan untuk menelusuri
rekam jejak alumni di pasar kerja sebagai bagian dari evaluasi hasil pelatihan.
Kemnaker
juga mendorong model pelatihan yang melibatkan industri, pemerintah daerah,
kawasan industri, hingga badan usaha milik negara (BUMN). Melalui pendekatan
Demand Driven, peserta mendapatkan pelatihan di balai yang disesuaikan dengan
kebutuhan industri sehingga dapat meningkatkan peluang kebekerjaaan pasca
pelatihan.
Selain
menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, BPVP diarahkan untuk
memperluas layanan melalui pelatihan bagi penyandang disabilitas, Labor Productivity
Clinics bagi industri menengah, serta Talent & Innovation Hub sebagai pusat
inovasi.
“Jadi
tidak hanya vokasi, di setiap balai nantinya akan ada Talent Innovation Hub,
lengkap dengan pengantar kerja bagi disabilitas dan klinik produktivitas,” tutur
Yassierli.(pk)